Bab 11 : Percakapan Kawan Lama

"Aku tidak mengerti kenapa kita harus hidup, Mike."

Aku berbicara dengannya melalui ponselku sambil menatap dari jendela apartemen.

Aku berada di lantai belasan dan hari itu masih pagi pukul enam.

Aku melihat ke jalanan yang berada di bawah. Ada beberapa orang tengah sibuk berjalan di area apartemen.

"Kau tidak perlu memikirkan sejauh itu dan fokuslah melakukan apa yang harus kau lakukan,dear," terdengar suara lebih lembut darinya. Kini dia sudah berusia 43 tahun. "Apa yang sedang kau lakukan saat ini?"

Aku bergerak dan melihat seorang laki-laki tertidur lelap.

"Aku berada di tempat seseorang dan aku terbangun lebih dulu."

"Kau masih melakukannya? Menggunakan para lelaki itu?"

Aku tersenyum. "Kau tahu aku tidak akan melakukannya jika kau memutuskan bersamaku, bukan?"

Terdengar tawa renyah darinya. "Kau selalu datang padaku jika mereka tidak membuatmu puas, bukan?"

Kami berdua tertawa.

"Apakah menyenangkan menjadi tua?"

"Terkadang. Tapi aku bahkan masih merasa sama meskipun sekarang segalanya menjadi sedikit lebih lamban."

"Aku tidak ingin menjadi tua."

"Kau akan menjadi tua dan mati. Kau tidak dapat melawan kehendak alam, dear. Itu hanya bagian dari kehidupan ini."

"Tapi aku tidak bahagia."

"Kau selalu mengatakan tidak bahagia sejak kita bertemu. Kau berusia 18 tahun, dear. Tapi lihatlah, kau hanya datang padaku ketika kau merasa tidak bahagia dan itu hanya beberapa kali saja. Apakah kau sadar bahwa kau hanya memperlakukanku layaknya tuhan? Yang didatangi manusia hanya ketika tidak ada manusia lainnya yang dapat membantunya?"

"Aku tidak pernah menganggapmu sebagai tuhan. Hanya seorang laki-laki tua yang pemarah."

Mike tertawa sambil sumpah serapah dia pun berkata, "Kau baik-baik saja, dear. Menjadi bahagia bukanlah suatu keharusan melainkan sebuah pilihan. Kau sudah melewati momen-momen bahagiamu tanpa kau sadari. Percayalah, kau tidak seburuk yang kau kira."

Aku terdiam mendengarkannya.

Benarkah aku sebenarnya juga bahagia tapi tak menyadarinya?

Aku kembali memperhatikan laki-laki yang tertidur lelap itu.

Aku ingin pulang.

Jadi kusudahi percakapanku dengan Mike dan diam-diam aku meninggalkan apartemen laki-laki itu. Dia mungkin akan terkejut mengetahui bahwa aku tidak ada. Tapi aku pikir lebih baik begitu ketimbang aku harus mengucapkan perpisahan dan melihat ekspresi kecewa di wajahnya pada saat aku pergi meninggalkan tempatnya selama-lamanya.

Bab 11 : Percakapan Kawan Lama, Jurnal 30, AFR

Comments

Popular Posts